Rabu, 20 Januari 2016

Tidur cintaku,tidurlah tenang.

 Ingin kubisikkan ke mimpimu, kisah dari seserpih waktu, tentang sebuah dusun yang dijiwai puisi sesuntuk hari.

Tidur, ya, tidur. Bayangkan dirimu berbaring telentang di tanah lapang, di atas rerumputan, tengadah kepada bintang-bintang.

Pandanglah seksama serakan merjan nun jauh di angkasa kelam, tatap dan jangan dulu mengerjap, biarkan serbuk cahayanya mengendap di genangan malam, mengendap ke matamu yang menyimpan kilau danau berpalung dalam, lalu katupkan pelupukmu perlahan. Biarkan bencah-bencah cahaya itu melindap bagai kenangan, meresap ke serat-serat sanubari dan bemerkahan sebagai kelopak mimpi.

Suatu waktu nanti, ketika aku dan kau sudah tak ada lagi, kisah yang kusampaikan padamu ini akan tinggal abadi.

Gemanya akan terus ditimang angkasa yang tenang, lalu kata demi kata akan turun dalam setiap pundi embun, disaring halimun, diserapkan ke daun-daun, ke batang-batang pepohonan, ke akar-akar, ke tanah ke batu-batu, dan terajut pada setiap helai lumut.

Dan manakala kisaran sang waktu sampai di satu noktah, di mana bertemu awal dan akhir langkah, kisah ini akan bersemi kembali, kelak ditemu anak cucu dalam bentuknya yang baru. Dan akan selalu begitu, Cintaku.

Selalu…

Sumber : Maafjiwaku.blogspot.com

Senin, 07 September 2015



(Kepada ;Nta)

kau adalah bulir-bulir padi yang menguning itu
kau adalah jawaban atas tanya musim

'"masih mungkinkah mimpi ditebar
diatas tanah yang nyaris kehilangan cinta"'
tapi kau adalah harapan itu
maka air mata yang tumpah
mohon
jangan kau tadah
biarkan mengalir disungai
agar dimakan ikan-ikan...

Rachmat Yusuf 070915
Catatan Tepi : Ketika akal kehilangan ruang
Selain air, tanah dan udara, TUHAN juga meminjamkan api sebagai fasilitas
untuk menunjang kebutuhan hidup manusia.
Karena sifat api yg panas dan mudah memusnahkan apapun,
maka TUHAN hanya memberikan hak pakai ini
kepada mahluk yang telah diberi NYA akal. Itu sebabnya, binatang
tidak diberi hak untuk bisa memanfaatkan api sebagai penunjang hidup.
Tapi ketika manusia menjadi lupa...
dan menjadikan api sebagai senjata untuk saling menghancurkan :
atas nama politik
atas nama ideologi
atas nama faham-faham yang sarat akan makna abu-abu
lalu,
tengah dimanakah akal berada saat itu?
kehilangan ruangkah akal dan telah tergantikan oleh "nafsu", sifat yang
juga dimiliki oleh binatang?

mari kita tuang segelas kopi
untuk membujuk akal agar menemukan kembali ruangnya
sebab apapun alasannya...
perang dan kebencian, adalah penjungkirbalikan nilai-nilai kemanusiaan...

Pekanbaru,7 September 2015
hidangan ketujuh dalam kenduri cinta

Tuhanku
kalau memang tak mampu
kutemukan wilayahmu
maka
beri aku kekuatan tetap sabar dalam mencintaimu
seperti engkau yang begitu maha sabarnya
ketika menampung tetes-tetes embun yang jatuh kebumi
dengan helai-helai daun
( dish to seven in feast of love )

Jumat, 14 Februari 2014

segenap keinginan dan kebutuhan
hanya ENGKAU yang maha tau
sungguh
tiada daya dan kekuatan
kecuali dengan izin MU

"jumat dititik kosong tujuh"

Rabu, 12 Februari 2014

Jingga

begitu banyak kebaikan yang telah engkau beri hingga aku berpikir akan ketidaksanggupanku untuk membalas semuanya lalu aku meraba pengharapan dan takdir kelak ketika matahari sejengkal dari kepala semogalah segenap kebaikan-kebaikan itu menjadi sesuatu yang membuat NYA tersenyum

Sabtu, 08 Februari 2014

ketika aku merindu

Ketika aku merindukanmu…
Kutuliskan semua rasa yang ada
Kucoba rangkai menjadi bait-bait puisi indah
Seadanya rasa ini, sedalamnya hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Tak terasa tetes airmata jatuh di pipiku
Dikala tak sedikitpun dapat kutemui adamu
Lirih pun tak kudengar suara manismu

Ketika aku merindukanmu…
Aku ingin waktu berputar ke masa lalu
Saat dimana aku ada disampingmu
Ketika dirimu belum pergi dari kehidupanku

Ketika aku merindukanmu…
Langit yang biru pun terasa kelabu
Panas mentari tak mampu hangatkan jiwaku
Tak ada rasa indah dalam kehidupanku

Ketika aku merindukanmu…
Berjuta angan inginkan kembali kehadiranmu
Walau harus berjalan jauh menjemputmu
Kurela demi bahagianya hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Semua langkah tanpamu terasa kaku
Tak ada tawa terlahir serenyah bersamamu
Hidup sepenuhnya terasa pilu

Ketika aku merindukanmu…
Ingin rasanya aku menuruti semua egoku
Raih bahagiaku, mungkin acuhkan bahagiamu
Syukurku, ketika merindukanmu tak ku lakukan itu

Ketika aku merindukanmu…
Kutatap langit, kulihat engkau menatapku
Kutatap air, kuingat kenangan bersamamu
Kutatap hidupku, begitu kosong tanpamu

Ketika aku merindukanmu…
Aku bersedih kala teringat dia disampingmu
Begitu ingin kuhapuskan kerinduan ini
Namun hati masih ingin mengharapkan kembalimu

Ketika aku merindukanmu…
Berjuta tanya menyeruak dipikiranku
Adakah juga kau rasakan kerinduan padaku
Tak terbersitkah keinginan bertemu lagi denganku

Ketika aku merindukanmu…
Tak sedikitpun kusesali pertemuan awal itu
Tak ada hasrat untuk memisahkanmu
Tak ada rasa ingin membelenggu jiwamu

Ketika aku merindukanmu…
Ratusan malam kuhabiskan menunggu
Banyak mimpi kutabur di taman hatiku
Berharap esok kau berdiri di depan pintu hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Terkadang datang ragu, coba tepiskan indahmu
Terkadang kupeluk bayangmu yang semu
Kutatap fotomu, berharap engkau melihatku

Ketika aku merindukanmu…
Berjuta penyesalan hadir atas semua khilafku
Berandai dapat kuperbaiki masa lalu
Seandainya dapat, kutata ulang kehidupanku

Ketika aku merindukanmu…
Terselip tanya “adakah kau menyesal mengenalku ?”
Terselip tanya “tak bisakah kau miliki saja diriku ?”
Terselip tanya “begitu mudahkah hapuskan diriku dari kehidupanmu ?”

Ketika aku merindukanmu…
Setengahnya kumerasa malu, karna mungkin hanya aku
Di sampingmu bukan diriku, mungkinkah dipikirmu ada diriku
Hingga dihatimu, masih bisa merindukan sosok lemahku

Ketika aku merindukanmu…
Hanya ungkapan rasa ini yang kumampu
Meski takkan pernah dapat menjadi obat bagiku
Sedikitnya melepaskan sedikit rasa dari hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Kurelakan semua rasa sayang ini menunggu
Kubiarkan diri ini mengenang memori masa lalu
Kuyakinkan hatiku jangan memilih tuk ragu

Ketika aku merindukanmu…
Harapan tumbuh, serasa ku mampu sendiri dulu
Kubiarkan hati putih tanpa debu cinta yang lain
Mencoba buktikan betapa setianya diriku

Ketika aku merindukanmu…
Kuberikan semua rasa sayang yang tulus untukmu
Kuhapus ingatan tentang ketaksempurnaanmu
Kuyakinkah hati sesungguhnya kita adalah satu

Ketika aku merindukanmu…
Kusadari betapa lemahnya diriku tanpamu
Kuteringat betapa kasarnya diriku dulu
Betapa ingin memohon dirimu kembali padaku

Ketika aku merindukanmu…
Kucoba merangkai semua imaji bahwa kau pun merindu
Kucoba bermimpi kau pun memimpikan keberadaanku
Kucoba menunggu, buktikan takdir dan inginku

Ketika aku merindukanmu…
Tak kuasa logika atas semua rasa dalam hatiku
Tak kuasa raga atas keberadaan jiwa lemahku
Tulus mencintaimu, dari ketidaksempurnaanmu

Ketika aku merindukanmu…
Kupintakan dirimu sehat s’lalu hingga batas waktu
Berkhayal kelak dapat kulihat kembali sosok indahmu
dan kudengar lagi… suara manja dan manismu

Ketika aku merindukanmu…
Kuterpaku dengan kata-kata cinta dan setia
Tulus dan tanpa harus dirasa oleh berdua
Hingga sering membuatku menjadi rapuh

Ketika aku merindukanmu…
Menjadi seperti inilah diriku
Terlihat jelas seluruh isi hati dan pikiranku

Hanya karena aku merindukanmu…
Kurasakan putih dan tulusnya cinta
Indahnya memberi, teguhnya rasa
Bagaimana hati mencoba setia

Ketika aku merindukanmu…
Rindu hanyalah satu-satunya kata di hatiku