Untaian Kata Usang yang Tak Pernah Usai
Satu ruangan yang dihuni banyak orang memunculkan banyak karakter yang tak sama. Gelap dan terang, siang dan malam, tinggi dan rendah merupakan deretan antonym yang bermakna sama dengan perbedaan itu. Berpuluh kepala memang ada, namun satu yang tak bisa diasingkan dari indera. Ya, hanya satu dan tak lebih dari itu. Dingin, dan tak cukup dikenali. Kenal memang saling mengetahui namun tak dapat diartikan dengan kata “akrab”.
Sorot matanya memunculkan paranoid akan rasa“over confidence” yang menggelorakan kalbu sehingga dentuman nadi dan detak jantung seakan tak dapat terkontrol oleh pikiran. Gila memang, tapi memang inilah kenyataan yang tak bisa dihapus begitu saja. Semuanya muncul tanpa diterka.
Sifat “es” itu kadang mencair namun kadang semakin mengeras. Mungkin karena memang tak sedekat bersama kepala-kepala lain sehingga sangat sulit untuk mendekati sang pujangga alam itu. Meskipun banyak jalan menuju Roma, tapi saat ini memang tak ada jalan untuk memasuki relung kalbunya, semuanya buntu. Lika-liku jalan yang membuat otak berkontraksi hebat ternyata hanya jurang yang menjadi ujungnya.
Tulisan-tulisan khusus yang selalu ditulis dalam forum public pun tak pernah digubrisnya. Ya memang wajar, “sang kutub” bukan pengagum art dari kaum Yahudi. Disinilah bangkit rasa putus asa tuk dapat menggenggam pasir lebih erat dan tidak membuatnya berjatuhan. Tak jauh juga seperti sedang bercermin dimalam hari tanpa satu titik cahaya sama sekali. Ya, hanya ilusi lah yang membuatnya bisa menjadi nyata tanpa ada rasa gundah, meskipun konsekuensinya hanya sebuah imajinasi yang tak membekas dihati.
Memang hanya Tuhan yang paling tahu segalanya. Entah pro ataupun kontra hanyalah Dia zat yang maha mengerti segalanya. Namun sosok yang diharapkan mencair itu tetap terkurung dalam hati dan terkunci oleh geliat asa yang menggelitik relung kalbu. Lalu kunci itu dibuang entah kemana, sehingga sampai kapanpun akan tetap terpenjara dalam indahnya rasa cinta tak terpijarkan.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar